Peran Humas dalam Wabah Corona
Nama: Luke Oswald Mataniari Manurung
NIM: 195120200111051
Peran
Humas dalam Wabah Corona
Wabah Corona yang sedang melanda dunia hingga saat ini
merupakan suatu hal yang tidak terduga dan memiliki dampak yang secara garis
besar merugikan bagi kehidupan manusia. Sehingga dikarenakan wabah ini pula,
pemerintah dari negara-negara yang terlanda Virus Corona ini pun mau tidak mau
dan suka tidak suka harus membuat kebijakan untuk mencegah penyebaran virus ini
agar tidak lebih luas. Dari mulai diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar
(PSBB) yang baru-baru ini dilakukan di beberapa kota seperti Jakarta, Depok,
Bekasi, Bogor, lalu anjuran untuk tetap berada di rumah (stay at home), lalu
ada juga anjuran untuk melakukan social dan physical distancing, dan masih ada
kebijakan lainnya. Manusia tentu belum terbiasa dengan kondisi ini, yang
notabenenya manusia juga merupakan makhluk sosial. Dan dengan adanya Wabah
Corona ini aktivitas manusia menjadi terganggu.
Ditengah Wabah Corona ini, tidak menutup kemungkinan akan
ditimbulkannya suatu kekuatiran, perasaan yang bercampur aduk dari masyarakat
yang ada di seluruh dunia ini. Bagaimana tidak? Karena bisa dibilang penyebaran
dari virus ini sangatlah cepat dan juga tidak terdeteksi sampai nanti ada
gejala tertentu yang akan menimpa si penderita virus ini. Bagaimana supaya kepanikan-kepanikan
seperti ini dapat terkendali dengan baik? Bagaimana agar image masyarakat tentang
virus ini dapat berubah menjadi sesuatu yang harus dibasmi bersama? Disinilah Humas
dapat ikut berperan dalam membantu.
Sebagai seorang humas yang baik di tengah wabah ini,
humas tersebut haruslah:
-
Mendengarkan persepsi publik tentang
virus ini
Seperti yang dijelaskan di dalam jurnal “Crisis Response vs Crisis Cluster: A Test of
Situational Crisis Communication Theory on Two Crisis Clusters in Indonesian
Public Relations” karya dari Bapak Rachmat Kriyantono dan Bapak Bernard McKenna,
bahwa jikalau terjadi sebuah krisis ataupun suatu masalah, maka seorang humas
haruslah mendengarkan persepsi publik tentang krisis atau masalah tersebut. Jikalau
seorang humas telah mendengarkan dan mencoba mengambil persepsi publik, yang
dapat saya tangkap dari jurnal tersebut adalah bahwa nantinya humas lebih bisa
mengatur strategi komunikasi yang tepat dan kemudian nantinya akan disampaikan
ke masyarakat sehingga masyarakat memaknainya dengan baik. Contoh, jika persepsi
masyarakat tentang virus ini adalah buruk, menakutkan maka strategi komunikasi
dari humas tersebut haruslah yang menenangkan masyarakat, lalu juga dengan
pemberian himbauan ke masyarakat untuk menjaga diri dari virus tersebut dan apa
saja yang harus dilakukan.
-
Menjelaskan maksud motivasi dari
humas
Kent
(1997) di dalam jurnalnya yang berjudul “Beyond
excellence: Extending the generic approach to international public relations the
case of Bosnia” di dalam Teori Generik Retoris (RGT) menjelaskan bahwa harus ada maksud motivasi yang jelas dari
seorang humas, baik itu untuk menghibur, menginspirasi, atau apapun itu. Yang
dapat saya tangkap dari jurnal tersebut, adalah bahwa seorang humas yang baik
di tengah wabah corona ini akan menyampaikan maksudnya untuk memotivasi para masyarakat.
Dengan adanya maksud yang jelas, maka masyarakat pun juga akan memaknai maksud
tersebut dengan baik dan masyarakat akan membentuk suatu semangat dan kesadaran
untuk bersama-sama mencegah dan melawan Virus Corona ini. Contohnya, seorang
humas sedang menyampaikan pesan tentang Virus Corona kepada masyarakat lewat
media, maka hendaknya setelah menyampaikan pesan tersebut, seorang humas harus
menyampaikan motivasi kepada masyarakat agar bersama-sama melawan Virus Corona
ini.
-
Mengevaluasi hasil dari program
pemerintah
DeSanto
dan Moss di dalam jurnal mereka yang berjudul “Rediscovering what PR managers do: Rethinking the measurement of managerial
behaviour in the Public Relations context” mengemukakan di dalam perspektif
PR terhadap elemen dari peran manajer, bahwa mengevaluasi hasil program
merupakan hal yang efektif jika dikaitkan dengan situasi yang ada saat ini.
Jika dikaitkan dengan situasi saat ini, programnya siapa yang harus di evaluasi?
Di tengah Wabah Corona ini, pemerintah dari berbagai negara yang terjangkit Virus
Corona ini membuat program-program tertentu sebagai wujud atau aksi nyata dalam
melawan virus tersebut. Seperti contohnya di Indonesia sendiri, Wisma Atlet
yang tadinya merupakan tempat menetap sementara untuk para atlet olimpiade, dijadikan
sebagai Rumah Sakit Darurat untuk merawat pasien-pasien yang terkena Virus
Corona dikarenakan kurangnya Rumah Sakit yang dapat menampung pasien-pasien Virus
Corona ini, lalu juga ada pendistribusian Alat Pelindung Diri (APD) dalam skala
besar kepada tenaga medis di seluruh kota di Indonesia yang merawat dan mengobati
para pasien-pasien yang terkena Virus Corona, dan masih banyak lagi. Seorang
humas yang baik, harus mencoba untuk mengevaluasi program-program dari pemerintah
tersebut, apakah program-program itu sudah cukup efektif untuk penanganan virus
ini? Ataukah masih ada suatu ketimpangan di dalam program tersebut. Karena
nantinya, yang akan menyampaikan langsung ke masyarakat adalah humas itu
sendiri. Jadi, jika dirasa program pemerintah itu sudah cukup efektif dan baik,
barulah humas menyampaikan program-program tersebut kepada masyarakat.
-
Mengemukakan apa yang akan dilakukan
setelah wabah ini berakhir
Di
dalam Situational Crisis Communication Theory (SCCT) di jurnal “Crisis Response vs Crisis Cluster: A Test
of Situational Crisis Communication Theory on Two Crisis Clusters in Indonesian
Public Relationsz”, Coombs (2010) mengemukakan bahwa di dalam suatu krisis
atau masalah, seorang PR perlu menyampaikan kepada publik tentang apa yang akan
dilakukan setelah krisis atau masalah itu berakhir. Jika dikaitkan dengan Wabah
Corona ini, maka seorang humas yang baik juga harus menyampaikan kepada publik
tentang program-program atau kegiatan-kegiatan apa saja yang disiapkan
pemerintah setelah Wabah Corona ini berakhir. Dengan adanya penyampaian pesan
tersebut, masyarakat atau publik akan lebih terinformasi dan tidak kekurangan
informasi pastinya. Contohnya, jika pemerintah menyiapkan program untuk memberikan
pendapatan lebih bagi orang-orang yang terpaksa harus bekerja di luar rumah dan
hanya mendapatkan pendapatan harian, maka seorang humas harus langsung
menyampaikan seluruh program pemerintah tersebut kepada masyarakat. Sehingga,
masyarakat akan mendapat informasi yang up to date dan terkini. Yang dapat saya
tangkap dari poin tersebut, adalah bahwa secara tidak langsung, penyampaian pesan
inipun juga dapat menaikkan semangat untuk masyarakat dalam menghadapi Virus
Corona ini karena program-program yang menarik dari pemerintah tersebut.
Dari
4 hal yang dapat dilakukan oleh humas tersebut, kita juga dapat mengambil kesimpulan
bahwa kita sebagai masyarakat pun, juga harus turut aktif mengambil peran dalam
penanggulangan virus ini. Program-program atau himbauan-himbauan dari
pemerintah tersebut tidak akan berjalan jika masyarakatnya pun tidak
mengindahkan dan tidak ikut menjalankannya. Jadi, mari kita sebagai masyarakat
dan juga pemerintah bersama-sama bersinergi untuk mencegah penyebaran Virus
Corona ini agar tidak meluas lagi.
Daftar Pustaka:
DeSanto, B., & Moss, D. (2004).
Rediscovering what PR Managers do: Rethinking the measurement of managerial
behaviour in the Public Relations context. Journal of Communication
Management, 179-196.
Kent, M. L., & Taylor, M.
(2006). Beyond excellence: Extending the generic approach to international
public relations The case of Bosnia. Public Relations Review, 11-20.
Kriyantono, R., & McKenna, B.
(2019). Crisis Response vs Crisis Cluster: A Test of Situational Crisis
Communication: Theory on Two Crisis Clusters in Indonesian Public Relations. Jurnal
Komunikasi: Malaysian Journal of Communication, 222-236.
Komentar
Posting Komentar