RESUME JURNAL MEDIA RELATIONS


Nama: Luke Oswald Mataniari Manurung
NIM: 195120200111051


Media Relations
Disaat kita membahas tentang Media Relations, kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang ada di balik Media Relations tersebut. Media Relations tercipta dari hubungan antara Jurnalis dan Humas (Public Relations), dan hubungan yang dijalankan itu bersifat simbiosis mutualisme (Kriyantono, 2016). Bagaimana bisa dikatakan menguntungkan? Seorang jurnalis membutuhkan sebuah informasi untuk menulis berita yang akan dihasilkannya. Informasi tersebut dapat diperoleh oleh seorang jurnalis dari seorang humas (Public Relations), karena humas dianggap sebagai pemberi informasi bagi jurnalis dan informasi yang diberikan secara aktif ter up to date dan valid (Sallot & Johnson, 2006). Dan dengan adanya informasi tersebut, ketidakpastian akan informasi bisa berkurang (Zoch & Molleda, 2006).
Hasil informasi yang telah diserap dari seorang jurnalis, kemudian akan dijadikan sebagai sebuah produk berita dan akan disebarkan melalui media massa. Mengapa informasi yang diambil harus dari seorang humas yang ada di dalam suatu organisasi? Karena informasi-informasi yang diperoleh tersebut memiliki dampak bagi publik dan memang harus disebarkan kepada publik (Furtuno, 2000). Poin penting yang harus diingat juga dari Media Relations ini adalah bagaimana informasi yang diberikan oleh humas tersebut, berbasis subsidi informasi (Information Subsidies). Apa itu subsidi informasi (Information Subsidies)? Itu adalah sebuah kegiatan atau aktivitas dimana seorang praktisi Public Relations berkontribusi untuk membantu peran seorang jurnalis. Kontribusi yang diberikan oleh Public Relations ini dapat diukur dari 2 aspek, yaitu menyediakan informasi untuk penghasilan berita yang layak atau layak diberitakan dan juga pastinya untuk membangun relasi media itu sendiri (Kriyantono, 2016; Zoch & Supa, 2014). Grunig dan Hon (1999) mengemukakan sebuah metode untuk mengukur skala dari subsidi informasi ini. Ada 5 poin penting dari metode ini, yaitu:
-          Mengendalikan Kebersamaan (Control Mutuality), disini Public Relations harus mengerti bahwa seorang Jurnalis memiliki rasa ingin tahu yang tinggi akan informasi. Maka, seorang Public Relations sekiranya tidak memberikan sebuah peraturan yang bersifat kaku. Kaku disini dalam artian akan membatasi peran dari jurnalis itu sendiri.
-          Kepercayaan (Trust), yang dimaksud disini adalah harus adanya sebuah kepercayaan antara kedua belah pihak (Jurnalis dan Public Relations) dan juga adanya sebuah kemauan untuk membuka diri antara kedua belah pihak (tidak ada yang ditutup-tutupi) yang didalam nilai ini memiliki sifat integritas, dapat diandalkan, dan berkompeten.
-          Kepuasan (Satisfaction), ini dimana saat kedua belah pihak merasa puas atau memiliki kepuasan dikarenakan mereka memiliki ekspektasi yang positif dan ekspektasi itu menjadi realita, dan juga sama-sama memiliki keuntungan yang baik.
-          Komitmen (Commitment), sebuah tingkatan dimana kedua belah pihak setuju bahwa hubungan yang dijalani mereka harus dipertahankan karena komitmen yang telah dibangun.
-          Hubungan Komunal (Communal Relationship), ini dimana kedua belah pihak (Jurnalis dan Public Relations) sama-sama peduli akan profesi yang mereka jalani masing-masing dan juga memiliki sifat profesional, dimana mereka tidak berusaha untuk menjelekkan sesuatu dan mendiskriminasi media-media lainnya.
Lalu, jika kita membahas simbiosis mutualismenya, dimanakah letak simbiosis mutualisme tersebut? Daritadi kita membahas tentang peran dari Public Relations itu sendiri, sedangkan apa yang dapat dilakukan oleh seorang jurnalis itu? Hubungan personal antara Public Relations dan jurnalis yang terjalin secara baik, akan memunculkan sebuah kemungkinan yang baik bagi perusahaan tempat Public Relations itu berada dengan peliputan berita oleh seorang jurnalis yang isi beritanya akan condong mengarah ke kepentingan dari perusahaan tersebut (Kriyantono, 2016; Lattimore, et al, 2011).
Di Indonesia, hubungan antara Jurnalis dan Public Relations tergolong negatif. Berdasarkan hasil studi dari Kriyantono (2014a) dengan menganalisis media berita dan juga wawancara dengan 20 Jurnalis dan 20 Public Relations, hasil studinya menunjukkan bahwa kedua pihak Jurnalis dan Public Relations masih memiliki persepsi yang buruk antara kedua belah pihak. Dari sisi Public Relations berpendapat bahwa Jurnalis cenderung lebih berfokus terhadap hal-hal negatif dari perusahaan Public Relations itu, dan juga Jurnalis dianggap tidak seimbang dalam meliput berita dan juga tidak mengkonfirmasi terlebih dahulu kebenaran informasi. Sedangkan dari sudut pandang Jurnalis, Public Relations itu sendiri tidak memiliki dan tidak menyediakan sebuah bentuk komunikasi yang bebas dan terbuka, jadi seorang Jurnalis cenderung sulit untuk mendapat akses langsung untuk memperoleh informasinya, dan juga Jurnalis di Indonesia berpendapat bahwa di dalam kegiatan jumpa pers, Public Relations tidak memenuhi ekspektasi yang diharapkan dari Jurnalis.
Sekarang mari kita beralih ke sistem subsidi informasi yang ada di Indonesia. Seperti yang kita ketahui sekarang Indonesia berada di dalam Era Demokrasi. Dan di Era Demokrasi ini, implikasi dari karakter publik adalah dengan adanya Transparansi dan Akuntabilitas. Bentuk-bentuk dari kedua nilai tersebut itu dapat berupa ke lebih kritis, memiliki akses lebih ke informasi, lebih bebas untuk menyampaikan aspirasi atau pendapat, dan secara aktif memonitor aktivitas yang dilakukan pemerintah (Charoensukmongkol & Moqbel, 2014; Kriyantono, Destrity, Amrullah, & Rakhmawati, 2017). Dan juga di dalam Era Demokrasi ini, teknologi yang ada sudah semakin canggih. Misalnya, internet. Bisa dikatakan bahwa dengan adanya internet, ini dapat membantu pekerjaan seorang jurnalis dalam menyerap informasi (Jun, 2011; Koopmans & Zimmermann, 2003). Jurnalis seringkali mendapat kesulitan dalam mendapati informasi yang mereka inginkan (Newsom & Haynes, 2014), dikarenakan mereka frustasi akan batasan waktu dalam mempublikasi suatu berita, sehingga secara tidak langsung, para jurnalis ini seperti dipaksa untuk melakukan pekerjaan mereka secara cepat dalam mempertahankan aktualitas suatu berita (Lattimore et al., 2011).
Yang dapat saya tangkap dari penjelasan diatas, adalah bahwa dengan adanya teknologi yang canggih seperti internet ini, cukup dapat membantu seorang jurnalis dalam melaksanakan pekerjaan mereka. Apalagi, di dalam Era Demokrasi ini, Public Relations di dalam pemerintahan harus sudah menyediakan website yang dapat memperbolehkan atau mengizinkan dialog secara interaktif yang memiliki tujuan untuk memperkuat partisipasi dari publik, termasuk para jurnalis itu sendiri (Searson & Johnson, 2010). Dengan demikian, sebuah Media Relation dapat terbangun dengan baik.
Kesimpulan dari resume jurnal ini adalah, bahwa sinergisitas dari Jurnalis dan Public Relations yang baik akan membangun sebuah Media Relations yang baik. Dan dengan adanya nilai simbiosis mutualisme yang dijalankan dari kedua belah pihak, tujuan yang ingin dicapai dari kedua belah pihak dapat tercapai. Jurnalis dapat memproduksi berita yang baik dan valid, sedangkan Public Relations akan diuntungkan juga dengan citra perusahaannya yang baik. Dan yang dapat saya tangkap juga dari jurnal-jurnal yang telah saya baca adalah, bahwa dengan adanya sebuah keterbukaan dari kedua belah pihak, itu juga akan memperkuat Media Relations yang dijalin dari kedua belah pihak.


Daftar Pustaka:


Kriyantono, R. (2019). How Journalists Perceive The Media Relations of Public Relations as News-Sources in Indonesia. 1-11.
Kriyantono, R. (2019). JOURNALISTS PERCEPTIONS OF GOVERNMENT PUBLIC RELATIONS WEBSITES AS INFORMATION SUBSIDIES IN DEMOCRACY ERA. New Media and Digital Inclusion, 98-115.
Kriyantono, R. (2019). Research Strategies and Media Relations in Public Relations Practices. Jurnal KOMUNIKATIF Vol. 8 No. 2 Desember 2019 , 178-190.
Kriyantono, R. (2020). Efektivitas website perguruan tinggi negeri sebagai penyedia informasi bagi mahasiswa. Jurnal Studi Komunikasi, 117-142.
Kriyantono, R. (n.d.). How to Conduct a Good Media Relations.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Public Relations

JOLES (JOMBLO WOLES)