Elemen Objektivitas Berita
Nama: Luke Oswald Mataniari Manurung
NIM: 195120200111051

NIM: 195120200111051
Disini saya akan mencoba untuk memaparkan
contoh contoh dari 4 elemen objektivitas berita yang ada. Penjelasan ini
melanjutkan dari apa yang telah dijelaskan dari Pak Rachmat Kriyantono di video
YouTubenya.
Sumber yang akan saya pakai disini untuk menuliskan
tulisan saya adalah buku “Public Relations Writing: Media Public Relations,
Membangun Citra Korporat” karya Pak Rachmat Kriyantono. Sebelum kita membahas
elemen-elemen objektivitas tersebut, kita harus mengetahui terlebih dahulu awal
mula dari penjabaran elemen-elemen objektivitas ini. Awalnya, elemen-elemen
objektivitas ini bersumber dari Kode Etik Jurnalistik Wartawan Indonesia tahun
2006. Kode Etik ini bisa dibilang sebuah patokan umum untuk bisa menilai
kualitas dari suatu berita yang ada. Kode Etik ini ada untuk menguji informasi
yang ada, memberitakan informasi secara berimbang dan adil, serta dengan tidak
mencampurkan fakta dan opini yang bersifat menghakimi dan juga menerapkan asas
praduga tak bersalah.
Setelah adanya Kode Etik tersebut, disini Pak Rachmat
menjabarkan 4 elemen objektivitas hasil dari uraian Kode Etik itu, 4 elemen
tersebut adalah:
1. Faktualitas,
disini dijelaskan bahwa berita yang ada haruslah berdasarkan fakta. Jangan
sampai mengandung karangan atau opini wartawan. Lalu, seperti apa kah berita
yang faktual itu:
-
Berita harus mengedepankan kebenaran atau
truth, yang artinya fakta yang ada di dalam berita harus dapat dikonfirmasi
atau dicek kebenarannya. Jika ternyata memang valid, maka berita yang ada dapat
dikatakan akurat. Akurat disini mempunyai arti bahwa berita yang ada haruslah
cermat dan juga tepat.
-
Berita juga tidak boleh mencampuradukkan
antara fakta dan opini pribadi dari wartawan. Mengapa demikian? Karena disaat
fakta dicampurkan dengan opini pribadi wartawan, maka berita akan menjadi rancu
dan pembaca akan tergiring ke pengertian yang bisa jadi salah. Untuk itu,
sangat penting bagi berita yang ada untuk memaparkan data yang aktual dan
berdasarkan fakta saja.
-
Berita yang ada haruslah lengkap atau
memiliki completeness, artinya bahwa
berita ini harus dibangun dengan unsur-unsur berita yang lengkap, apakah
unsur-unsur berita tersebut? Yaitu, 5W+1H (what, who, when, why, where, how). What disini bertugas untuk menjelaskan
peristiwa apa yang terjadi. Who
menjelaskan tentang siapa saja tokoh tokoh yang ada di dalam peristiwa
tersebut. When menjelaskan tentang
waktu kejadian peristiwa tersebut, Why
menjelaskan tentang alasan sampai terjadinya peristiwa tersebut, Where menjelaskan tentang tempat
terjadinya peristiwa tersebut, dan How
menjelaskan tentang bagaimana proses peristiwa tersebut.
-
Berita disini harus memiliki relevansi
atau relevan dengan kondisi yang terjadi saat berita disebarkan, yang artinya
sang pembuat berita haruslah memikirkan atau mempertimbangkan dampak dari
berita yang ada bagi publik. Apakah berita itu penting dan dibutuhkan oleh para
pembaca?
-
Berita disini juga harus informatif, yang
berarti berita harus memberikan informasi yang jelas dan lengkap tentang
peristiwa yang disampaikan. Jangan sampai membuat pembaca berita merasa bingung
dengan peristiwa yang disampaikan. Tidak bertele-tele, ringkas, mudah dipahami,
mengandung 5W+1H dan juga jelas.
Contoh
dari elemen Faktualitas ini misalnya
berita tentang Virus Corona. Korban yang terjangkit Virus Corona di Indonesia
per 27 Maret 2020 dari kompas.com
mencapai 1.046 kasus. 46 orang dinyatakan sembuh dan 87 orang diantaranya
meninggal. Hal ini dikonfirmasi oleh Juru Bicara Pemerintah untuk penanganan
COVID-19, Achmad Yurianto di gedung BNPB, Jakarta. Nah, dari sini dapat
disimpulkan bahwa data atau berita yang dipaparkan kompas.com berdasarkan fakta pastinya karena langsung dikonfirmasi
oleh juru bicara pemerintah, lalu juga beritanya ter up to date karena per 27
Maret 2020, dan memiliki aspek lainnya yang melengkapi elemen faktualitas ini.
2. Imparsialitas,
disini berita tidak boleh berpihak kepada golongan atau pihak tertentu dan
tidak boleh sepotong-sepotong didalam memberikan atau menyajikan peristiwa.
Ciri-ciri berita yang imparsial ini adalah:
-
Berita disini haruslah seimbang dalam
pemberitaannya atau bisa dikatakan balance. Berita juga harus menyampaikan apa
yang sebenarnya terjadi. Prinsip balance atau keseimbangan ini biasa juga
dikenal dengan istilah “cover both sides”,
yang berartu meliputi dua pihak secara seimbang.
-
Berita harus netral. Disini isi berita
haruslah tidak memihak kepada salah satu pihak dengan memberikan opini pribadi
wartawan. Kenetralan ini bisa dilihat dari gaya bahasa penulis dan sudut
pandang penulis mengarah kemana.
-
Berita yang ada juga tidak boleh
sepotong-sepotong. Berita harus ditulis berdasarkan konteks peristiwa secara menyeluruh
dan tidak dipotong oleh kecenderungan subjektif.
Contoh
dari elemen Imparsialitas misalnya
berita tentang debat capres dan cawapres menjelang pemilu. Berita yang mengandung
elemen ini tidaklah boleh memihak kepada salah satu pihak capres atau cawapres
dengan cara mengisi berita dengan pendapat bahwa capres A lebih unggul dari
capres B misalnya. Maka, akan menjadi berita yang tidak baik dan juga tidak netral.
Beritanya haruslah menjelaskan situasi di debat tersebut secara menyeluruh,
balance, dan memberitakan yang sebenarnya terjadi.
3. Narasumber
yang kredibel. Dalam mencari narasumber dalam penulisan suatu berita, haruslah
mencari narasumber yang dapat dipercaya, dapat menyampaikan fakta yang
sebenarnya, dan memiliki pengetahuan atau setidaknya terkait erat dengan
peristiwa yang ingin dituliskan ke dalam berita. Contoh: Misalnya, suatu
perusahaan berita ingin mengangkat berita soal jumlah penyebaran Virus Corona
di Indonesia, maka narasumber yang harus dicari adalah yang terkait erat atau
yang mengetahui soal angka penyebarannya di Indonesia. Contohnya seperti Juru Bicara
Pemerintah dalam Penanganan COVID-19.
4. Memiliki
News Values. Nilai yang ada di dalam berita tersebut haruslah menarik. Semakin menarik
nilai beritanya, maka besar kemungkinan berita tersebut akan dimuat. Nilai
berita ini biasanya tertera pada judul atau kepala berita. Saat judul atau
kepala berita ini menarik minat pembaca, maka besar kemungkinannya akan dimuat
dan disebarluaskan. Namun, hendaknya jangan mengandung clickbait dan
semacamnya. Contoh: Ada salah satu murid sekolah yang melakukan pembullyan fisik
ke murid lainnya. Usut punya usut ternyata anak yang melakukan pembullyan ini
merupakan anak dari seorang anggota DPR. Maka, seorang penulis berita akan
menuliskan judul “Anak anggota DPR melakukan pembullyan”. Jika hanya memakai
judul “Murid sekolah melakukan pembullyan”, maka akan menjadi kurang menarik.
Daftar Pustaka:
Kriyantono,
Rachmat. Public Relations Writing: Media Public
Relations Membangun Citra Korporat. 2008. Jakarta : Prenada Media Group
Komentar
Posting Komentar